Ramadhana

Halo, laki-laki kesayanganku.

Kamu buru-buru meminangku walau gaji bulan depan kau terima pun belum tentu. Kata bapak, kamu terlalu berani. Kata ibu, kamu memang nekad. Tapi aku yakin, Allah mengirimmu khusus buatku. Sudah bertahun-tahun kupanjatkan doa buatmu, sudah lama sekali kunantikan kehadiranmu. Walaupun beribu kilometer memisahkanku darimu, doaku tak akan pernah putus. Demikian pula doamu.

Sabar ya sayang.
Semoga Allah segera mempersatukan kita.

Advertisements

Fly

I am drying my wings under the winter sun

Everything feels so slow now

When I am finally ready

I will fly to you, loved one

Embrace me!

A tropical man

I’m a tropical man.. I love being kissed by the sun, I love beaches and crystal blue water, I love the feel of warm sand on my feet, I love to feel the summer breeze blowing through my sea-soaked skin.

I love music and guitar, I love alcohol and being intoxicated, I love being wasted and honesty, I love being sober in alcohol, I love the flame of a campfire, I love lying on the sand with milky way as my witness.

I love the gentle crashing waves of the sea on the shore on a calm summer night, children’s laughter at night while running barefoot on the sand, oh… I’m a tropical man.

—————

This is what a friend of mine wrote to me in his very emotional state. I just hate to think that it will be forgotten in my inbox. Thanks, Kuya J!

Jodoh

Kata orang, perihal jodoh adalah perihal yang rumit. Entah darimana asal anggapan itu. Mungkin pada jaman dahulu kala, para ahli sudah berkumpul dan memadukan seluruh energi yang mereka miliki untuk mengurai perihal jodoh. Tapi tampaknya mereka telah gagal. Akibatnya sekarang semua orang menganggap perihal jodoh adalah perihal yang rumit. Tak ada lagi seorang pun yang ingin mengkaji ulang anggapan ini, seakan semua orang setuju bahwa perihal jodoh itu rumit, abstrak, dan tidak perlu dipikir-pikir lebih jauh.

Demikian pula aku. Perihal jodoh terlalu rumit untukku. Jadi jika siapa saja bertanya padaku soal jodoh, kapan menikah, atau siapa kekasihku sekarang, aku hanya akan tersenyum kecut. Bagaimana tidak, pertanyaan semacam ini datangnya bertubi-tubi dan terus-menerus. Mungkin para penanya tidak sadar bahwa aku pun tak tahu jawabannya sehingga mereka terus-terusan bertanya. Jadi, hanya sepenggal senyum kecut yang bisa kutawarkan sebagai jawaban. Kuharap mereka mengerti apa maknanya. Kuharap mereka maklum.

Kata Bapak, jodoh itu urusan Tuhan. Begitu pula dengan rezeki dan kematian, juga urusan Tuhan. Sudah dijamin. Kalau sudah dijamin, lantas mengapa dirisaukan? Secara teori memang begitu adanya. Serahkan semua pada Tuhan, tingkatkan kualitas diri, nanti Tuhan akan memberi jodoh yang sepadan. Tuhan Maha Adil dan Dia lah sebaik-baiknya sutradara, maka percayalah pada-Nya. Tapi aku ini manusia biasa. Kadang aku pasrah, kadang aku marah. Kadang aku juga menuntut-nuntut, meminta Tuhan menunjukkan siapa jodohku.

Lalu tibalah aku pada suatu titik dimana segalanya seakan percuma. Riset, studi, pernikahan, keluarga, apalah artinya semua itu? Semua usahaku terasa sia-sia, tidak berbuah selain rasa lelah. Diam-diam kuselipkan kata maaf kepada Tuhan atas diriku yang kufur nikmat, sekaligus memohon bimbingan-Nya. Sesaat kemudian kubuka kedua mataku dan datanglah ia dari masa lalu. Dia berkata bahwa ia telah menanti selama 28 tahun dan mungkin aku lah yang dinantikannya. Kutatap kedua matanya yang kini tidak lagi kekanak-kanakan. Kemudian aku mengangguk dan berjalan mengikutinya. Mungkin dia lah yang telah kunantikan selama 28 tahun.

Begitulah, jodoh memang perihal yang rumit. Dia akan datang pada saat yang paling tidak terduga. Tuhan sendiri yang akan mengirimnya padamu, lalu tanpa ragu akan kau sambut kedatangannya dengan hati penuh kedamaian. Akan Tuhan tuliskan untukmu pertemuan yang tiada terkira indahnya. Maka janganlah ragu. Jika kau masih berada dalam penantian panjang itu, ingatlah bahwa Tuhan bersamamu. Jaga dirimu baik-baik. Lalu bisikkan doa pada Tuhan, “biarkan aku menikah karena Engkau, wahai Kekasih, dan bukan karena nafsu ataupun cintaku yang fana ini“.

 

Sedated

I swear I have fire in my veins

I swear when God made me, He made me into the best of creation

You cannot convince me that I am less than my worth

Because I am everything you can never imagine, and more

 

If you took me for granted, it is your loss, not mine

This fire in my veins will burn so bright one day

Maybe it will blind you if you were not so blinded already

 

Now you might be able to sedate me

But not for long

Cinta (?)

Wahai Allah yang selalu mengasihi dan menyayangi, sesungguhnya hanya Engkau sumber dari segala rasa cinta.

Maka hindarkanlah aku dari perasaan cinta yang terlalu, kecuali itu adalah cintaku kepadaMu.

Sudahlah

Akhir pesan singkatmu semalam menjadi awal realitaku. Seperti mimpi yang harus diakhiri, kenyataan datang kembali dan hari sudah dimulai lagi. Mungkin kamu hanya angin lalu dan aku cuma pelarianmu. Mungkin kamu juga pelarianku, hanya saja belum kamu sadari itu. Aku lelah berlari-lari seperti ini. Kuharap kamu juga begitu.

Sementara ini akan kulupakan kamu, mas. Nanti akan kuingat kembali saat aku ingin berbicara sendiri dalam sepi.